Another 12 PM Call

maharanee©2017

.

is dedicated for myself, today’s birthday queen.

.

“Fuck.” Aku refleks mengumpat ketika layar ponsel yang tengah menampilkan video dari channel BuzzFeedBlue kini digantikan oleh tampilan caller ID Jendra.

“Hello, Mr. Prawiradinata. Congratulation for making me feel annoyed because your call just interrupted my midnight activity watching BuzzFeed Unsolved,” celotehku penuh sarkasme begitu aku menekan ikon telepon.

Happy sweet seventeen, Shortcake,” ucap Jendra, mengabaikan omelan panjang lebarku.

“Thank you.”

Just ‘thank you’?

“What am I supposed to say?”

No ‘I love you’?

“No.”

Come on!” rengek Jendra. “Why can’t you be nice to me for once?

“Because you don’t deserve my kindness,” sahutku, yang kemudian kusambung dengan tawa usil. “Bercanda, elah. Jangan ngambek.”

Telanjur,” tukasnya ketus.

“Jangan ngambek, Gendut~” ulangku dengan nada bicara seolah-olah aku sedang membujuk anak kecil.

Aku kurusan, tahu.” Ia membela diri. “I recently lost around 3 kilograms.

“From 70 kilograms?” tanyaku retoris. “That’s why I don’t see any difference.”

Dude, my weight before I lost that damn 3 kilograms wasn’t even 70, it’s 65.

“Oh.”

Whatever, I’m hanging up.

“No, don’t!” cegahku buru-buru. “I am kind of scared after watching BuzzFeed Unsolved.”

Dan seperti yang sudah aku duga, Jendra mendengus remeh. “Kebiasaan,” cibirnya. “Sudah tahu bakalan takut, tuh nggak usah banyak gaya.

“Ih, habisnya aku kepo,” jawabku. “Kamu sudah ngantuk, ya?”

Nggak juga, aku habis main FIFA.

“FIFA terus, kapan pintar?”

Bawel, kututup, nih teleponnya.

“Jangan!”

Makanya jangan cerewet.” Kali ini Jendra terkekeh. “Mau dengar aku nyanyi nggak?

“Paling kamu mau nyanyi lagu NDX lagi, ‘kan?” cetusku. “Kamu dibayar berapa, sih sama mereka buat promosiin lagu-lagunya?”

Ih, nggak! Kali ini bukan NDX,” ucapnya. “Dengerin aja, jangan banyak protes.”

Aku terdiam, mendengarkan Jendra yang mulai menyenandungkan lagu yang terasa familiar bagiku. Sepuluh detik pertama dan aku memekik,”Ih, ‘Sabda Rindu’, ya?!”

Ssstt, dilarang menginterupsi penyanyi!” protes Jendra sebal. “Diam dulu sebentar kenapa, sih?

“Hehehe…” kekehku. “Lanjut, deh.”

Aku membiarkan Jendra melanjutkan nyanyiannya, hingga sampai pada reff pertama dan secara refleks aku turut bernyanyi (karena dari lagu “Sabda Rindu”, hanya bagian itulah yang aku hafal nada dan liriknya).

Kok, kamu jadi ikut nyanyi?

“Maaf, refleks.”

Nggak apa-apa. Lanjut, dong.

“Nggak hafal.”

Ya nyanyi lagu lain yang kamu hafal.

“Suaraku jelek.”

Yang dengar ‘kan cuma aku.

“Nggak mau.”

Ck, gantian, lah! Tadi aku udah nyanyi.

Aku menghela napas pasrah. “Lagu apa?”

Yang kamu hafal apa?

“NDX.”

Katanya nggak mau lagu NDX?! Gimana, sih?

“Hahaha… nggak usah heboh gitu marahnya.”

Aku berdeham, lantas menyanyikan reff dari lagu “All I Want” milik Kodaline. Jendra sempat menggumam,”Kok langsung reff, sih?” tapi aku tidak mengacuhkannya.

“Udah, ya? Reff-nya aja, nggak usah banyak-banyak,” kataku.

Selanjutnya keheningan melesak masuk, mengisi atmosfer selama beberapa sekon. Deru nafas kami yang pelan menjadi satu-satunya suara yang saling bersahut-sahutan.

“Jen?” panggilku memecah sunyi. “Kalau ngantuk tidur.”

Nanti aja,” jawabnya singkat. “Kamu sendiri nggak ngantuk?

“Nggak,” ucapku. “Kamu kemarin habis sakit, ‘kan? Tidur sana, sakit lagi baru tahu rasa.”

Ck, cuma masuk angin,” decaknya.

“Cuma masuk angin katanya, tapi ngeluhnya kaya orang sakit parah,” cibirku. “Lagian suaramu sudah mulai serak, tuh. Kamu kalau kecapekan suaranya jadi serak, ‘kan?”

Cieee… perhatian,” godanya.

“Norak.”

I love you too.

“Noraaakk!”

Tidur sana. Besok aku jemput.

“Mau ke mana?”

Traktir aku, lah.

“Kemarin kamu ulang tahun aku yang traktir, sekarang giliran aku ulang tahun masih harus aku yang traktir?”

Hehehe… bercanda. Besok aku yang traktir. Aku lagi pengen pizza.

“Ih, sama, dong!”

Berarti kita jo…?

“…ngos.”

Ran.

“Udah, ya? Kalau kelamaan begadang besok aku nggak bisa bangun pagi.”

Kamu nggak begadang aja tetep susah bangun pagi.

“Jen.”

Night, Birthday Girl. Jangan lupa mimpiin aku.

“Idih, kamu jangan lupa mimpiin mbaknya yang ada di kamar kamu.”

DI KAMARKU NGGAK ADA MBAK-MBAK!!!

“Buset, santai!”

Ran, serius, lah!

“Apaan, sih tadi ngatain aku penakut, sekarang kamu sendiri dibohongin kaya gitu aja jerit-jerit.”

Ran, kalau gini terus sampai jam lima nanti teleponnya nggak selesai-selesai.

“Okay, I’m hanging up,” jawabku. “Night, Jen.”

Aku terdiam sebentar, lantas menggumam dengan volume suara yang teramat kecil,”I love you, Dumbass.”

Dan sudah bisa kutebak, Jendra merespons dengan tawa geli. “I love me too.

“Terserah.”

.

.

.

—finished.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s